
Dari Suhaib ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya.
Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya" (HR. Muslim)
SABAR. . .
Entah dari mana asalnya, kata ini terkadang ampuh, membuat kita berhenti menangis saat cobaan menyapa hidup kita. “Bersabarlah”. Kadang malah membuat kita ingat sekaligus ingin beristighfar dan langsung mengambil wudhu, lalu Quran untuk melantunankan beberapa kalimatnya. “Bersabarlah”. Bagi yang non-Muslim biasanya juga langsung mengatakan “Puji Tuhan” dan mengambil kitab sucinya sambil mencari rentetan ayat yang berhubungan dengan penenangan diri dan berserah diri. “Bersabarlah”.
Karena saya seorang Muslim, maka saya menulisnya berdasarkan apa yang saya pahami dari keyakinan saya, namun ini bukan berarti mengesampingkan agama non-Muslim atau melarang yang berbeda keyakinan dilarang membacanya. So, tulisan ini untuk siapapun yang ingin memelihara sifat SABAR dalam konteks yang luas. ^_^
Sabar berasal dari bahasa Arab, yang kemudian seiring perkembangan budaya menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah "Shobaro" membentuk infinitif (masdar) menjadi "shabran". Jika didefinisikan secara bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Agar semakin kuat maknanya. Mari kita mengintip firman Allah dalam Quran, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahfi: 18 - 28).
Seberapa penting tho sabar itu?
Lha ini dia pertanyaan yang mungkin semua orang sepakat dengan saya. Bahwa sabar itu sangat amat penting sekali. Mau bukti? Banyak pemerkosaan yang terjadi di Negri ini. Andai saja para pelaku bersabar menahan syahwat mungkin saja tidak ada korban, malah sekarang lagi nge-trend banget tuh Bapak menjadikan anaknya sebagai objek pelampiasan syahwatnya. Mau bukti lagi? Andai saja para koruptor bersabar untuk menjadi jutawan, uang Negara tidak akan habis seperti sekarang. Andai saja kemarin, ketika kalah AFF para supoter sabar, pasti deh kita tidak akan menyalahkan si Firman Utina (soalnya lagi musim bola jd contohnya sedikit nyerempet hehehe…) dan parahnya andai para pembeli tiket final AFF sedikit bersabar pasti tidak ada deh yang sampai pingsan apalagi ada yang meninggal karena dehidrasi.
Tidak akan ada pencurian hingga akhirnya pelaku membunuh korban, jika sabar itu ada, karena sabar adalah ketenangan. Tidak akan membuat suami istri saling membenci dan melakukan perceraian, jika sabar itu ada, karena sabar adalah kedamaian. Tidak akan ada bentrok antara mahasiswa yang melakukan demonstrasi dengan polisi, jika sabar itu ada, karena sabar adalah pembelajaran. Tidak akan ada guru yang mengacuhkan muridnya karena kenakalannya, jika sabar itu ada, karena sabar sebuah didikan.
Bagaimana sabar itu bisa tumbuh?
Sabar bukan berarti berhenti dan diam ketika ada masalah yang menimpa hidup, dan bukan berarti putus asa dan pasrah tanpa melakukan suatu apapun. Berhenti sejenak dan segera bergerak cepat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sabar adalah menunda respon atas stimulus yang menyakitkan dirinya untuk beberapa saat sampai merasa tenang sehingga pikiran dapat berfungsi kembali dengan baik. Itu berarti secara tidak langsung sabar akan mengasah kecerdasan emosi, terutama dalam menghadapi situasi marah dan menyakitkan.
Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT. di muka bumi ini dituntut untuk selalu mendayung akan budinya agar tercipta ketentraman, kedamaian, kebahagiaan, dan kebaikan. Secara psikologis orang-orang yang demikianlah yang akan mengalami ketenangan dalam hidupnya walau kerap tekanan hidup menghampiri.
Manusia mempunya naluri yang mengajaknya untuk mencari, menentukan dan menemukan sesuatu yang baik dalam hidupnya. Naluri juga yang senantiasa mengajak manusia untuk membenahi diri ke arah yang lebih baik. Dalam setiap hari bahkan setiap detik kehidupannya, ia berusaha memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang pas dan mencari alternatif lain yang lebih baik. Manusia dengan akal budinya kemudian menjadikan hidup sebagai sebuah proses pencarian yang tidak pernah kunjung usai serta mencari kepuasan dalam melakukan segala hal, namun terkadang kepuasan tersebut semakin tidak ia dapatkan.
Dalam sebagian besar perjalanannya hidup anak adam, agama banyak memberikan petunjuk. Namun dengan adanya keterbatasan kemampuan serta ideologi menyimpang, manusia kerap tidak mampu menggapai puncak keistimewaan tersebut. Dalam konteks ini, manusia juga lazim mengeluh dan bahkan kecewa akan kondisi psiko-Ilahiyah-nya, sehingga merasa terpanggil untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hal keagamaannya.
Kesatuan antara keyakinan terhadap Allah SWT., serta taat terhadap apa yang sudah diajarkan Islam, sangat membantu kita untuk terus memelihara sikap sabar dalam setiap konadisi. Ketenangan jiwa yang dihasilkan dari kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa memberikan energi positif dalam menjaga hati kita yang kerap berbalik setiap waktu. Menjadi manusia yang selalu berikhtiar, berdaya upaya dan berjuang agar menjadi orang yang beriman, dengan mendidik dirinya masing-masing, dan memperdalam keyakinan dan pengetahuannya tentang Tuhan dan agama adalah cara cepat untuk memperoleh energi sabar dalam setiap kondisi. Insya Allah.
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Ungkapan Mutiara
Kamis, 19 Mei 2011
Berhenti Sejenak dan Segera Bergerak Cepat
Kamis, 05 Mei 2011
Mengenang Perjuanganmu

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berpikir hanya untuk sebuah keberhasilan
Hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajahmu
Semangatmu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu
Kepadamu guruku
Mencintaimu dari hati kami
Jika engkau akan melangkah pergi
Kutau langkahmu penuh pengorbanan
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Kamis, 28 April 2011
Kesiapan itu Harus Dilatih

Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM
“Saya tidak mengatakan ini salah, saya pun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak!!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup, ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup 'MONGGO', sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan” Send Muslih.
Penggalan SMS yang saya layangkan untuk seseorang yang selama 5 tahun ini menunggu saya membuat saya berpikir berulang kali pagi ini untuk mengirimnya. Tepatnya semenjak 2005 silam, dia mencoba mengajak saya untuk menjalani hubungan yang menurut saya tidak jelas statusnya. Waktu itu saya hanya menawarkan dia untuk mendatangi langsung orang tua saya dan dia mengiyakan itu. Persis seperti yang dia katakan pada saya bahwa katanya dia tertarik pada saya dan kelak akan menikahi saya, begitu juga dengan apa yang dia katakan pada Bapak dan Ibu saya satu bulan setelah dia menerima tantangan saya.
“Biarkanlah berjalan apa adanya, maaf saya masih belum siap jika saat ini harus menikah” Ujar saya 3 tahun lalu saat dia mencoba untuk mengajak nikah.
“Beri aku alasan konkrit Din kenapa belum siap?” Tanyanya
“Hmmmm… entahlah hanya saja saya belum siap untuk meninggalkan orang tua saya begitu cepat sedang saya belum melakukan sesuatu yang membuat Bapak-Ibu bahagia” Saya yakin ini alasan paling jitu untuk membuatnya diam bertanya.
“Setelah menikah aku gak akan menghalangimu untuk mencapai rencana hidupmu dan aku juga gak akan menghalangimu untuk meneruskan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi”
“Mus…. Saya mohon beri saya waktu. Jika kamu sabar insya Allah saya gak akan ke mana” Saya memang selalu cerdas untuk membuatnya diam. ^_^
Terakhir kalinya dia mengajak saya menikah 3 tahun lalu, awal tahun 2009. Hampir setiap bulan setelah proses menyatakan sukanya tahun 2005 pertengah bulan, dia selalu menanyakan kesiapan saya menikah dengannya, dan kadang saya tak meresponnya karena saya yakin dia paham jawaban saya yang tidak pernah berubah. Pernah suatu saat dia mendatangi saya ke rumah kos saya yang hanya ingin melihat respon saya saat menolak diajak menikah, padahal jarak tempat tinggal kami tidak kurang dari 12 jam.
“Din... apa setelah aku ke sini kamu akan bersedia?”
“Mus... saya akan menjawabnya jika saya benar-benar siap”
“Sebenarnya apa yang kamu tunggu Din?”
“Saya hanya ingin membangun rumah tangga dengan kesiapan saya Mus, siap secara lahir dan batin. Bagi saya pernikahan adalah janji suci saya pada Allah yang disaksikan oleh banyak orang, mana mungkin separuh agama yang ingin saya sempurnakan ditaruh dengan ketidaksiapan saya?”
“Tapi Din…”
“Jika kamu masih bersabar insya Allah saya akan datang, tapi jika sudah tidak sanggup lagi apa saya berhak menghalangimu untuk pergi?”
“Hmmmm… Baiklah dengan itu kamu sebenarnya masih ingin aku tunggu Din”
Hingga 2011 datang dan studi sarjana saya selesai, dia kembali nekat mendatangi orang tua saya di rumah. Kali ini dia didampingi oleh kakak tertuanya dan adik bungsuhnya. Bapak dan Ibu saya memang sudah sejak awal menaruh hati pada pria ini bahkan sejak awal tidak pernah melarang saya jika saya menikah dengannya. Menurut Bapak dan Ibu, pria ini santun dan bertanggung jawab, entah tau dari mana padahal baru beberapa kali berinteraksi secara langsung. Bisa jadi apa yang dia tonjolkan di depan Bapak dan Ibu hanya ingin mencari perhatian saja. Atau mungkin sifatnya hanya sementara karena ingin mengambil hati Bapak dan Ibu. Saya sedikitpun tidak terpengaruh dengan itu.
“Nak, bagaimana keputusanmu?” Tanya ibu setelah itu.
“Bu, bukannya Ibu tau kalau Dina belum siap hingga saat ini”
“Din, usiamu sudah cukup untuk melangkah kejenjang berikutnya, Bapak-Ibu ridha untuk itu, dia pria baik” Bapak angkat bicara kali ini.
“Iya Din, apa yang kamu tunggu sebenarnya? Bukankah dia sudah 5 tahun menunggumu?” Tanya ibu lagi
“Dina tidak pernah menyuruhnya menunggu Bu”
“Nak, laki-laki itu jika ditolak terus menerus akan merasa penasaran. Apalagi jika alasan yang diberikan menurutnya tidak masuk akal. Sekarang alasan apa lagi yang akan kamu berikan din? Tidak siap lagi?” Bapakku mulai merayuku.
“Bagi Ibu dan Bapak gelar sarjanamu sudah cukup, bukankah dia juga menawarkanmu posisi di yayasannya setelah kamu menikah dengan dia kelak?” Kata ibu.
“Ingat lho ya Din, perempuan itu kalau sendirian lebih baik dijaga oleh Mahramnya dari pada sendirian ke mana-mana” Bapak menambahkan lagi.
Ya Allah kenapa hingga saat ini sepertinya berat jika harus menikah. Saya benar-benar tidak siap. Entah kenapa. Bukan saya tidak tertarik pada pria itu, bahkan jika dicari celanya saya nyaris tidak menemukannya. Sejak awal dia memang lelaki santun yang dikenal di Pesantren saya. Apalagi beberapa kali dia menjadi ketua Pondok yang dipercayai banyak orang, terlebih guru-guru kami. Selepas dari pesantren dia melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi Al-Quran dan langsung menjadi salah satu pengajar di sana selepas kuliah. Ukuran IQ-nya sungguh tidak ada yang meragukannya lagi.
Ya Allah apa ketidaksiapan ini hanya karena dia jauh lebih sempurna dari pria-pria yang lain? Tapi bukankah setiap manusia memiliki kekurangan? Tapi saya benar-benar jauh lebih kecil dibanding dia. Dia pintar dalam urusan al-Quran, sedang saya bisa mengaji saja al-hamdulillah. Dia pria terpandang di mata masyarakat tempat tinggalnya karena keahliannya dalam bersosialisasi, sedang saya hanya wanita rumahan yang kadang tidak kenal siapa-siapa di kampung saya. Bahkan mungkin piagam penghargaan berjejer di tembok rumahnya, sedang saya bisa melanjtkan pendidikan saja sudah sangat luar biasa.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, dering ponsel yang dibawakan oleh Sulis berbunyi tanda pesan masuk, ah dini hari siapakah yang mengganggu konsentrasi saya.
Pesan Masuk dari Muslih. “Din, mudah-mudahan ikhtiarmu dimudahkan untuk menjawab tawaranku tempo hari”
Balas. “Amin”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Amin. Banyak-banyak istighfar Din”
Balas. “Makasih, inysa Allah. Boleh saya nanya sesuatu?”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Silahkan”
Balas. “Kenapa kamu memilih saya?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk Muslih. “Din, setiap orang berhak memilih siapa yang kelak akan mendampingi hidupnya. Aku memilihmu karena aku ingin kamu”
Balas. “Maksudnya?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Aku butuh kamu untuk mengarungi kehidupan selanjutnya, bukan karena aku tidak mencoba mencari selain kamu Din, sempat beberapa kali aku mencoba tapi aku butuh kamu”
Balas. “Butuh untuk apa”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Karena aku yakin kelak keturunanku akan seperti kamu. Aku butuh karena keturunanku Din. Jika kau mengiyakan menikah denganku maka kamu akan tau jawaban sebenarnya Din”
Balas. “Aku belum siap Mus”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Siap itu masalah ikhtiar Din. Aku yakin selama ini kamu belum mencoba untuk siap. Aku yakin kamu memang tidak pernah mempersiapkan untuk menyambut peluang menikah denganku Din. Aku bahkan yakin urusan tawaran menikah menjadi urusan terbelakang bagimu selama ini Din. Kesiapan itu proses yang harus dipupuk sejak awal Din. Seperti kita hendak sekolah, bahwa sebelum sekolah kita harus mempersiapkan seragam, buku, alat tulis, sepatu dan sebagainya. Jika kita tidak siap semua itu maka kita tidak bisa sekolah karena jika memaksa maka di sekolah akan terhambat menerima pelajaran guru. Sama dengan pernikahan din. Mulanya kita harus meimliki persepsi positif terhadap konsep pernikahan, setelah itu perlahan kita ikhtiar mencari calon pendamping hidup dengan membuka diri terhadap siapa saja yang ingin”
Balas. “Terimakasih Mus”. Send Muslih
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina. Pesan masuk dari Muslih. “Lalu kapan aku bisa menerima jawabanmu”
Sengaja kugantungkan begitu saja pesan terakhir dari Muslih. Air yang keluar dari mata begitu deras. Benarkah saya tidak mencari kesiapan itu? Lalu apakah selama ini saya mendzalimi Muslih dengan jawaban saya yang menggantung? Ya Allah.
Satu bulan kemudian. Rabu, 27 April 2010. 11:12 AM.
Innalillahi wa inna ilaii roji’un, Ibu saya pulang selamanya menghadap yang maha agung. Tidak sempat saya memberi tau kesiapan saya untuk menikah, Ibu kecelakaan tabrak lari di depan stasiun setelah pulang dari berjualan. Tujuh hari di ICU tidak membuat Ibu stabil dan saya sangat kehilangan.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Din, adakah kamu sudah mepersiapkan jawabannya?”
Balas. “Mus, tidak bisakah menunggu beberapa hari lagi?”. Send Muslih.
Solli wasallim ya Robbi ‘ala nabiy sayyidina, Pesan masuk dari Muslih. “Apa saya salah memintamu menjawab sekarang Din? Apa karena Ibu pergi kamu semakin mengulur waktu Din? Kamu sudah lama membuatku menunggu”
Balas. “Saya tidak mengatakan ini salah, sayapun juga tidak menyalahkanmu, hanya saja ini tidak tepat. Saya hanya butuh waktu. Bersabarlah sejenak !!! Jika memang dirasa sudah tidak sanggup ikhlaskan saja semuanya, ini bagian dari kisah kehidupan yang harus disyukuri. Namun jika dirasa sanggup "MONGGO", sekali lagi ikatan ini bukanlah ikatan yang disyahkan jadi sewatu-waktu jika mau mundur silahkan dan ikhlaskan. Seperti yang kamu bilang waktu itu, persiapan itu harus kita latih begitu juga dengan kesiapan menerima keputusan ini Mus, kita harus melatihnya”. Send Muslih.
*Terispirasi dari kisah seorang sahabat yang bertahun-tahun lamanya menunggu jawaban seorang wanita yang sedang menjalani studi di luar negri dan akhirnya hingga kini sahabat saya masih menunggu jawaban itu. Bagi siapa saja yang mengalami kisah serupa dengan diatas, atau agak mirip atau mungkin lagi berminat menjalani kisah itu ^_^ Satu kuncinya, bahwa KESIAPAN ITU MEMANG HARUS DILATIH, siap mencintai itu berarti siap untuk tidak dicintai, siap membenci itu sama juga harus siap disukai, siap menikah itu juga harus siap dengan rumitnya rumah tangga, siap melanjutkan studi harus siap dengan semakin mahalnya biaya studi, siap jadi koruptor berarti siap menjalani masa tua di jeruji besi dan lain sebagainya.
Satu lagi, siap menulis juga harus siap tulisannya akan diberikan masukan bahkan mungkin tulisannya tidak dibaca orang lain dan malah menjadi bungkus kacang dan kerupuk yang dijual dipasar ^_^
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Rabu, 20 April 2011
Aku Yakin Cinta itu Masih Ada

Masa itu mengusikku
Sama seperti yang kau rasakan
Saat itu menjeratku pada sebuah titik
Mengisahkan fenomena yang banyak orang terluka
Aku, kau, dia dan mereka
Bahwa dia memang tidak akan kembali
Ku tawarkan rasa padamu bahkan hingga kini
Ah...
Namun tetap saja sulit bagimu
Rontaan luka itu masih menyayatmu
Dan aku paham dan merasakan itu
Saudariku...
Masih seperti hari-hari kemarin
Kami tetap menunggumu kembali membangun cinta ítu
Dañ aku yakin masih ada cinta dalam lukamu
Note:
Catatan kupersembahkan untuk mereka yang terluka karena goresan saudara dan kerabatnya. Seberapa dalam luka itu, Allah tak akan merubah cintanya selagi kita ingin terus memupuk cinta itu. Seberapa besar rasa benci kita terhadap saudara dan kerabat yang melukai kita tak akan pernah memutus ikatan cinta itu. Saling mendoa, mengingat dan mengasihilah ketika rasa bencí itu datang.
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Selasa, 29 Maret 2011
Nak Kau Menginspirasiku

Pagi itu
Dengan baju hitam persis pelayat yang lagi berduka
Melangkah tanpa niat
Bersimpuh di meja menunggu 6 bocah
Para cundi-cundi negri ini
Syafa sang periang
Shanis putri cerdas
Arin si penyamangat
Jihan anak pintar
Husnul siswa pemalu
Emil sang baik hati
Satu persatu menghampiri tanganku lalu menciumnya dengan takzdim
Selanjutnya
Sang penginspirasi muncul dengan tubuh tegapnya sambil terseyum
"Bunda guru, Nafis mau sekolah"
Yah . . .
Anak baruku
Ahlan wasahlan näk
*Untuk semua pendidik. Berbanggalah karena kita orang terpilih untuk menuntun mereka yg ingin hidup dengan pikirannya. Terimalah mereka yang ingin belajar tanpa syarat apapun dan jangan tunda ajakan mereka hingga nanti apalagi besok.
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Senin, 28 Februari 2011
Andai Aku Bisa Itu

Menyesakkan jiwa saat kamu melintas di depanku
Ingin rasanya berhenti sesaat untuk menuntunmu
Namun tak kuasa
Lampu lalu lintas yang angkuh memancarkan warna hijau
Itu tandanya aku diminta untuk segera melaju
Ada rasa sesal kembali menyusup dalam jiwa
Tiba-tiba
Bagaimana jika hal serupa terjadi dengan Ibuku?
Naudzhubillah
Semoga kelak masih mampu merasakan merawat usia lanjutnya
Apa yang sebenarnya kau lakukan di jalan?
Dimana para saudara-anak-suami dan cucumu?
Siapapun tak kan sanggup melihatmu membungkuk dengan tangan yang menengadah
Wahai Ibu...
Andai aku bisa jadikanmu lebih layak
Andai aku bisa tempatkanmu pada bagian gubuk kecilku
Andai aku bisa
Rabb...
Siapapun dia
Lindungi dengan sebaik-baiknya perlindungan-MU
Saat melintasi pertigaan lampu lalu lintas Dinoyo hari itu.
Sabtu, 10 Juli 2010 pukul 10.00. Ibu itu menyebrangi jalan dengan membungkukkan badannya sambil menghampiri mobil-mobil mewah yang berhenti menanti giliran lampu hijau menyala.
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Kamis, 24 Februari 2011
Sederhanamu, Subhanallah

Pernahkah kalian melamar seseorang? Atau pernahkah merasakan sudah melamar namun akhirnya kandas begitu saja? Ah… Inginku menulis kisah di sini tentang dua hal itu dengan harapan bisa menjadikan pelajaran bagi siapapun yang sempat membacanya terlebih lagi khusus buatku pribadi.
Saat itu 8 tahun silam...
Saat usiaku beranjak 22 tahun tepat satu hari setelah aku merayakan kelulusan S1. Tiba-tiba orang tuaku duduk manis dihadapanku (biasanya tawar siy hehe…) mengatakan “Nak… kami akan menjodohkanmu dengan seorang wanita…bla…bla…bla…”. Lemas lunglai tubuhku saat itu. Hanya satu hal yang kuingat dari perkataan bijak Ayahku.
“Ayah hanya ingin silaturahmi antara Ayah dan Ayah dia tetap terjalin hingga kapanpun”. Ingin rasanya berontak.
“Pliiiiiz dewh…. Masak harus aku yang jadi korban?” Tapi alunan kalimat yang kususun berhenti di tenggorokanku. Sesak.
Hari itu tiba…
Aku mendapat lamaran dari seorang wanita yang selama ini tak pernah kutemui bahkan pada usiaku yang menurutku belum pantas menyandang status tunangan orang. Jangan kaget!!! Adat lamar-melamar di daerahku memang dilakukan oleh wanita, jadi pria kampungku sejatinya hanya berhak menunggu (gak enak banget tho, g bisa milih hahaha…). Prosesi berjalan mulus sesuai dengan konsep yang telah dibuat oleh Ayahku. Tesenyum puas sepertinya keluargaku menyaksikan Ayah tunanganku (berat bangaet aku menyebutnya hehehe…) menyematkan cincin dijari manisku. Dengan memaksakan tersenyum dihadapan calon mertuaku (lagi-lagi aku berat menyebutnya hehehe…) kucium dengan terpaksa tangannya, hatiku berontak “Kenapa ini harus terjadi Tuhan… aku tidak ikhlas menjalaninya Tuhan…”
Pertemuan pertama dengannya…
Prosesi berikutnya acara hantar calon mantu yang diadakan di rumahnya (baca: tunanganku ^_^). Pakaianku rapi karena Ibuku yang mengurus semuanya. Perpaduan kemeja putih dan celan hitam dan sepatu vantofel (persis kayak panitia kegiatan di SMA-ku dulu hehehe) semakin membuatku tampak mengkilap (tapi gak sampek nyaingi cermin kok). Katanya Ibuku “Le (baca : anak lelakiku) hari ini kau akan bertemu dengan tunanganmu, kau harus perhatikan dia baik-baik, kau tidak akan kecewa karena dia sangat cocok denganmu, anggun dan pintar”. Masih dalam kondisi eneg aku tersenyum pada Ibuku. Mudah-mudahan kalimat Ibu terakhir benar adanya (lho kok jadi ngarep juga hahaha…).
Dia tak sempurna Tuhan !!!
Kalimat itulah yang pertama kali keluar dari hatiku pertama kali melihatnya, namun kutahan dalam kerongkongan supaya tak keluar melalui bibirku. Ibuku benar. Dia anggung, bahkan lebih anggun dari yang aku bayangkan tadi. Untuk poin kedua PINTAR. Hmmmm… aku malu mengatakannya. Sungguh. Dia pernah menjuarai olimpiade Matematika mewakili Propinsi di Jakarta. Dia pernah menjuarai debat bahasa Jepang mewakili kabupaten. Dia juga pernah menjadi perwakilan propinsi menyambut tamu dari kedutaan Mesir karena kemahirannya dalam bahasa Arab. Ah… calon istriku (mulai berani sekarang hehehe). Balutan gamis berwarna biru semakin membuatnya anggun. Inikah wanita itu Tuhan?
Dua tahun lalu sepulangnya dari lapangan upacara, saat dia menjadi salah satu deretan yang mengibarkan bendera kebanggaan negri ini. Sebuah truk yang membawa batu bata menghatam motornya dari belakang. Kakinya tertimpa motor yang digunakannya diikuti oleh runtuhan batu yang berhamburan merapat barisan ditubuh semampainya. 2 kakinya diamputasi karena.... (ah…aku tal tega mengatakannya di sini) dan hasilnya dia tidak bisa berjalan dengan sempurna lebih tepatnya dia tak bisa berjalan. Tubuhnya bergantung pada kursi yang memiliki 2 roda itu, namun sekarang lebih canggih ada yang memiliki remote control. Malang sekali kamu calon istriku. ^_~
“Saya tidak menginginkan apa-apa kecuali kesederhanaan” Kalimat itulah yang akhirnya meluluhkanku. Mulanya aku tak paham apa maksud wanita ini (baca : calon istriku…nah lho hahaha) namun perlahan aku mengerti itu. Dia tidak pernah mau diajak kencan layaknya anak muda sekarang. Jika saya (hahaha… ketularan dia dewh) mengajaknya keluar, dia selalu ingin pergi ketempat tertentu, panti asuhan, panti jompo, yayasan pecandu narkoba (horror banget kan…).
Katanya “Maaf jika selalu mengajak Akang kesini (panggilan kesayangannya hehehe)… hanya saja saya ingin melihat kesederhanaan mereka menjalani hidup dengan segala keterbatasan dan kekurangan mereka”. Biasanya saya (tuuuh kan... dia mulai mempengaruhiku) hanya tersenyum saat ucapan rutinnya itu keluar dari bibir manisnya.
Pernah suatu hari…
“Akang… kenapa kau mau dengan saya?” Aku hanya tertegun dengan pertanyaannya yang sungguh akupun tak tau kenapa akhinya aku mau. Seingatku aku mau karena orang tuaku memaksaku untuk mau. Ah…. Namun tal tega jika harus mengatakan ini padamu Dinda.
“Karena kau pintar Dinda… nah kenapa Dinda mau di jodohkan?”
“Hmmm… tak banyak yang bisa saya lakukan sejak kecelakaan itu. berjalanpun saya bergantung pada benda satu ini. Mencuci baju saja saya tidak bisa. Saya hanya ingin belajar dari Akang, bagaimana orang lain menerima saya dengan segala keterbatasan saya”
Tertegun saya mendengar pernyataannya. Sampai kinipun aku masih belum bisa belajar dari keputusan menerima lamaranmu Dinda walau perlahan aku nyaman denganmu. Kadang juga aku selalu nggerutu jika kau mengajakku ke taman panti asuhan dan panti jompo. Malah aku pernah menyesal tidak menolakmu Dinda.
Empat tahun berlalu bersamamu Dinda
Selamat jalan Dinda… semua orang menyayangimu termasuk saya yang perlahan mengerti kesederhanaanmu menjalani hidup tanpa kaki beberepa tahun ini. Bahkan belum sempat saya mengatakannya bahwa saya mencintaimu Dinda dan bahwa saya sangat mencintaimu, kau pergi begitu saja tanpa pesan apapun kecuali tulisan indahmu untuk saya.
25 Desember 2010
Saat saya tak bisa lagi berjalan
Saya hanya memintaMu memberikan kesabaran
Namun Kau memberiku lebih dari itu
Kau hadirkan Akang untuk saya
Kau juga hadirkan keluarga Akang yang sangat mencintai saya
Bahkan…
Kau juga memberikan kekuatan lebih pada Akang untuk menerima saya
Sehingga sayapun juga tak punya pilihan
Kecuali juga berusaha lebih kuat dari biasanya
Rabb...
Kelak jika memang Akang tak bisa bersama saya
Berikan dia wanita yang lebih layak dari saya
Amin.....
Kesederhanaanku Mencintamu Akang
Dinda
30 Desember 2010
Dinda meninggalkan kami untuk selamanya. Senyumnya sangat khas. Tanpa mengeluh sakit apapun dia pergi begitu saja. Dia menutupkan mata dalam pangkuan Ibunda tercintanya setelah shalat dhuha. Selain kakinya yang diamputasi, dinda juga mengalami gagar otak. Menurut dokter bisa jadi gagar otaknya yang menjadi penyebab meninggalnya Dinda. Namun terlepas dari apapun penyebabnya, kami semua sepakat bahwa Dinda pergi karena Tuhan menyayanginya lebih.
Benar katamu Dinda saat pertama kali kita bertemu “Saya tidak menginginkan apa-apa kecuali kesederhanaan”. Andai saja waktu itu saya menolak perjodohan kita, mungkin saya tidak akan sesederhana ini mencintai seseorang. Andai saja bukan kamu yang menjadi calon istriku, bisa saja saya memperlakukannya bak wanita sempurna, membelikannya baju, membelikannya boneka, mengajaknya jalan-jalan, dan lain-lainnya. Andai saja bukan kamu yang menjadi calon istiku, bisa jadi orang tuaku tidak meridhainya karena pilihan mereka benar-benar tepat. Ah Dinda… wanita cacatku yang akhirnya meninggalkanku dengan sederhana untuk selamanya.
Nb: Terinspirasi dari sebuah lagu musisi Almarhum Chrisye yang berjudul Lilin-lilin Kecil (jika penasaran silahkan dengarkan langsung lagunya). Kesimpulan dari tulisan ini adalah silahkan interpretasikan secara subjektif hehe ^_^
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)



